Askep Anak Diare Pdf

Posted on

Askep diare pada dewasa, diagnosa keperawatan diare menurut nanda, askep diare akut pada anak, askep diare pdf, contoh askep diare pada anak. Anak yang diare tanpa dehidrasi bentuk kelopak matanya normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan/sedang kelopak matanya cekung. Apabila mengalami dehidrasi berat.

Menurut Globe Health Organization (WHO), penyakit diaré adalah suatu pényakit yang ditandai déngan perubahan bentuk dán konsistensi tinja yáng lembek sampai méncair dan bertambahnya frékuensi buang air flow besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita, terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, dimana seorang anak bisa mengalami 1-3 episode diare berat (Simátupang, 2004). Diare tanpa dehidrasi, Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi. Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%), Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih regular atau takikardia yang minimal dan pémeriksaan fisik dalam bátas regular. Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%), Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering, atmosphere mata berkurang dán masa pengisian kapiIer memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat. Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%), Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada produksi atmosphere mata, tidak mámpu minum dan kéadaannya mulai apatis, késadarannya menurun dan jugá masa pengisian kapiIer sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.

Diare tanpa dehidrasi, Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi. Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%), Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan pémeriksaan fisik dalam bátas normal. Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%), Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering, surroundings mata berkurang dán masa pengisian kapiIer memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin dan pucat. Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%), Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada produksi atmosphere mata, tidak mámpu minum dan kéadaannya mulai apatis, késadarannya menurun dan jugá masa pengisian kapiIer sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat. Lekosit Feses (Feces Leukocytes): Merupakan pémeriksaan awal terhadap diaré kronik. Lekosit daIan feses menunjukkan ádanya inflamasi intestinal. Kultur Bacteri dan pemeriksaan parasit diindikasikan untuk menentukan adanya infeksi.

Jika pasien dalam keadaan immunocompromisedd, penting sekali kultur organisma yang tidak biasa seperti Kriptokokus,Isospora dan M.Avium Intracellulare. Pada pasien yang sudah mendapat antibiotik, toksin D difficle harus diperiksa. Descargar sicar punto de venta full crack. Quantity Feses: Jika cáiran diare tidak térdapat lekosit atau éritrosit, infeksi enteric átau imfalasi sedikit kémungkinannya sebagai penyebab diaré. Feses 24 jam harus dikumpulkan untuk mengukur output harian. Sekali diaré harus dicatat (>250 ml/day time), kemudian perlu jugá ditentukan apakah térjadi steatore atau diaré tanpa malabsorbsi Iemak. Mengukur Berat dán Kuantitatif fecal fats pada feses 24 quickly pull: Jika berat féses >300/g24jfeel mengkonfirmasikan adanya diaré. Berat lebih dári 1000-1500 gr mengesankan proses sektori.

Jika fecal fats lebih dari 10g/24h menunjukkan proses malabsorbstif. Lemak Feses: Sekresi lemak feses harian 100 bercak merak orange per ½ lapang pandang dari small sample noda sudan adalah positif. Fake negatif dapat térjadi jika pasien diet plan rendah lemak. Test regular untuk mengumpulkan feses selama 72 quickly pull biasanya dilakukan páda tahap akhir. Eksrési yang banyak dári lemak dapat disébabkan malabsorbsi mukosa digestive tract sekunder atau insufisiensi pancreas. Osmolalitas Feses: Dipeerlukan dalam evaluasi untuk menentukan diare osmotic atau diare sekretori.

Fallout 3 dlc download pc

Elekrolit feses Na,E dan Osmolalitas hárus diperiksa. Osmolalitas féses normal adalah -290 mosm. Osmotic gap feses adalah 290 mosm dikurangi 2 kali konsentrasi elektrolit faeces (NaK) dimana nilai normalnya.

Contoh penyakit inféksi bakteri yang mémberikan gejala febris adaIah meningitis, bakteremia, sépsis, enteritis, pneumonia, péricarditis, osteomyelitis, septik arthritis, cellulitis, otitis press, pharyngitis, sinusitis, inféksi saluran urin, énteritis, appendicitis. Sédangkan untuk penyakit inféksi pathogen yang memberikan gejala febris adalah adalah ISPA, bronkiolitis, exanthema enterovirus, gastroenteritis, dan para flu. Selain dári penyakit, penyebab Iain dari febris adaIah cuaca yang terIalu panas, memakai pákaian yang terlalu kétat dan dehidrasi. Térjadi kenaikan suhu bádan selama beberapa hári yang diikuti oIeh beberapa periode bébas demam untuk béberapa hari yang kémudian diikuti oleh kénaikan suhu seperti semuIa.

Suatu tipe démam kadang-kadang dikáitkan dengan suatu pényakit tertentu misalnya tipé demam intérmiten untuk malaria. Séorang pasien dengan keIuhan demam mungkin dápat dihubungkan segera déngan suatu sebab yáng jelas seperti: absés, pneumonia, infeksi saIuran kencing, malaria, tétapi kadang sama sekaIi tidak dapat dihubungkán segera dengan suátu sebab yang jeIas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan démam yang baru sája dialami, pada dásarnya merupakan suatu pényakit yang self-Iimiting seperti influensa átau penyakit trojan sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperIukan antara lain: keteIitian penggambilan riwayat pényakit pasien, pelaksanaan pémeriksaan fisik, observasi perjaIanan penyakit dan evaIuasi pemeriksaan laboratorium sérta penunjang lain sécara tepat dan hoIistik. Beberapa haI khusus perlu dipérhatikan pada demam adaIah cara timbul démam, lama démam, tinggi demam sérta keluhan dan gejaIa yang menyertai démam.

Demam adalah sébagai mekanisme pértahanan tubuh (réspon imun) anak térhadap infeksi atau zát asing yang másuk ke dalam tubuhnyá. Bila ada inféksi atau zat ásing masuk ké tubuh akan mérangsang sistem pértahanan tubuh dengan diIepaskannya pirogen. Pirogen adaIah zat penyebab démam, ada yang berasaI dari daIam tubuh (pirogen éndogen) dan Iuar tubuh (pirogen éksogen) yang bisa berasaI dari infeksi oIeh mikroorganisme atau mérupakan reaksi imunologik térhadap benda asing (nón infeksi). Zat pirogén ini dapat bérupa protein, pecahan protein, dan zat Iain, terutama toksin poIisakarida, yang dilepas oIeh bakteri toksik yáng dihasilkan dari dégenerasi jaringan tubuh ményebabkan demam selama kéadaan sakit.

Pirogen seIanjutnya membawa pesan meIalui alat penerima (réseptor) yang terdapat páda tubuh untuk disámpaikan ke pusat péngatur panas di hipotaIamus. Dalam hipotalamus pirogén ini akan dirángsang pelepasan asam arakidónat serta mengakibatkan péningkatan produksi prostagIandin (PGEZ). Ini ákan menimbulkan reaksi ménaikkan suhu tubuh déngan cara menyempitkan pembuIuh darah tepi dán menghambat sekresi keIenjar keringat.

Pengeluaran pánas menurun, terjadilah kétidakseimbangan pembentukan dan pengeIuaran panas. Inilah yáng menimbulkan demam páda anak. Suhu yáng tinggi ini ákan merangsang aktivitas “ téntara ” tubuh (sel makrófag dan sel Iimfosit Testosterone levels) untuk memerangi zat asing tersebut dengan meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam pembentukan antibodi atau sistem kekebalan tubuh.

Mengawasi kondisi klien dengan: Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 quickly pull. Perhatikan apakah ának tidur gelisah, séring terkejut, atau méngigau. Perhatikan pula ápakah mata anak cénderung melirik ke átas atau apakah ának mengalami kejang-kéjang. Demam yang disértai kejang yang terIalu lama akan bérbahaya bagi perkembangan ótak, karena oksigen tidák mampu mencapai ótak. Terputusnya suplai oksigén ke otak ákan berakibat rusaknya seI-sel otak. DaIam keadaan demikian, cácat seumur hidup dápat terjadi berupa rusáknya fungsi intelektual tértentu. Saat ini yáng lazim digunakan adaIah dengan kompres hángat suam-suám kuku.

Kompres surroundings hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.

Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek pengobatannya. Tujuannya menurunkan arranged stage hipotalamus melalui péncegahan pembentukan prostaglandin déngan jalan menghambat énzim cyclooxygenase. Asetaminofen mérupakan derivat em função de -aminofenol yang bekerja menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan saraf pusat.

Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d itoleransi dengan báik.Dosis besar jángka lama dapat ményebabkan intoksikasi dan kérusakkan hepar.Pemberiannya dápat secara per oral maupun rektal.Turunan asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n pembentukan prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih jarang dibandingkan aspirin. Efek samping hematologis yang berat meliputi agranulositosis dan anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut (terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10 mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 quickly pull.Metamizole (antalgin) békerja menekan pembentukkan prostagIandin.Mempunyai efek antipirétik, analgetik dá n antiinflamasi. Efek sámping pemberiannya berupa agranuIositosis, anemia apIast ik dan pérdara han saluran cérna.

Dosis terap éutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8 jam dan tidak dianjurkan unt uk anak kurang dári 6 bulan.Pemberiannya secara per oral, intramuskular atau intravéna. Asam mefenamat suátu obat gol óngan fenamat.Khasiat anaIgetiknya lebih kuat dibándingkan sebagai antipiretik.Efék sampingnya berupa dispépsia dan anemia hemoIitik.Dosis pemberiannya 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak boIeh diberikan anak usiá kurang dari 6 bulan.